Menyinggahi Tempat Pengrajin Bambu, Salasa Boma, di Kelurahan Tongole, Kota Ternate

Di lereng Gunung Gamalama, Salasa Boma terus merangkai bambu—seolah merangkai waktu, menjaga tradisi yang kian rapuh agar tak benar-benar hilang ditelan zaman.

ANDI NASER_TERNATE

Bambu tumbuh subur di kawasan hutan Kota Ternate. Tanaman yang masuk dalam keluarga rumput-rumputan ini sejak lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Dari batangnya yang lurus dan kuat, orang-orang dahulu membangun rumah, merangkai kursi, meja, hingga berbagai perabot rumah tangga.

Namun zaman berubah. Rumah beton kini lebih diminati karena dianggap praktis dan tahan lama. Perabot plastik dan kayu olahan pabrik dengan desain modern semakin mendominasi pasar. Perlahan, rumah bambu dan kursi anyaman mulai menghilang dari sudut-sudut kampung di Ternate.

Meski demikian, denyut kehidupan bambu belum sepenuhnya padam. Di Kelurahan Tongole, kawasan dataran tinggi Kota Ternate Tengah, masih tersisa segelintir perajin yang setia mempertahankan tradisi mengolah bambu.

Kelurahan yang sejak dahulu dikenal sebagai sentra kerajinan bambu ini, kini hanya menyisakan sedikit tangan terampil yang bertahan melawan waktu.

Salah satunya adalah Salasa Boma.

Di halaman rumahnya di RT 02 RW 01 Kelurahan Tongole, lelaki berusia 80 tahun itu masih setia bekerja. Saat penulis berkunjung, Salasa tengah memotong batang-batang bambu sesuai ukuran.

Tangannya yang telah berkerut tampak cekatan merangkai potongan bambu menjadi rangka sebuah kursi. Di sekelilingnya, gergaji, pahat, pisau, dan parang tersusun rapi. Di bawah naungan terpal berukuran sekitar 3×6 meter, beberapa kursi bambu lengkap dengan sandaran dan pegangan telah selesai dibuat, siap dipasarkan.

Meski sibuk bekerja, Salasa menyambut dengan senyum hangat. Kerajinan bambu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak remaja. Ia mulai belajar membuat kursi dan meja bambu pada usia 15 tahun.

“Belajar dari papa saya. Dulu beliau juga pembuat kursi bambu,” tutur Salasa dengan logat khas orang Ternate yang kental.

Selama 69 tahun terakhir, bambu telah menjadi sumber penghidupan bagi orang tua sembilan anak ini. Namun, ia tak menampik bahwa profesinya kini tak lagi menjanjikan secara ekonomi. Produk bambu buatannya harus bersaing dengan kursi plastik, sofa empuk, dan perabot modern yang diproduksi massal dengan teknologi canggih.

“Dulu banyak yang cari, sebelum kursi plastik dan sofa masuk ke Ternate. Sekarang sudah kurang,” ungkapnya lirih.

Ia mengenang masa lalu ketika dalam sehari bisa menjual hingga 10 set kursi dan meja—satu set terdiri dari enam kursi dan satu meja. Kini, satu pesanan sehari sudah tergolong keberuntungan. Harga satu set kursi bambu saat ini dipatok sekitar Rp2 juta.

Proses pembuatannya pun tak singkat. Salasa harus menebang bambu sendiri dari kebun, membersihkan ranting dan daun, lalu mengeringkannya. Bambu yang baru ditebang tak bisa langsung digunakan.

“Kalau musim panas cepat kering. Kalau hujan, lama,” ujarnya sambil duduk di salah satu kursi buatannya.

Setelah kering, batang bambu dibersihkan lagi dari bulu-bulu halus yang bisa menyebabkan gatal, menggunakan sabut kelapa. Seluruh produknya murni dari bambu, tanpa bahan tambahan apa pun. Bahkan bambu yang digunakan bukan sembarang bambu.

“Tidak bisa pakai bambu lain. Harus bambu Cina atau bambu tutul,” tegasnya. Jenis bambu bermotif yang kini kian langka itu justru banyak ditemukan di kawasan Tongole, menjadikannya keunikan tersendiri.

Meski telah mahir, Salasa tak pernah berhenti belajar. Tahun 1985, ia mengikuti pelatihan perajin bambu di Ambon. Dari sana, ia mulai mengembangkan model kursi yang lebih variatif.

Kini, pemasaran hasil karyanya tak lagi mengandalkan pasar tradisional. Melinda, salah satu putrinya, mengambil alih peran itu. Sejak 2020, saat pandemi Covid-19 melanda, Melinda melarang ayahnya berjualan langsung ke pasar.

“Saya bilang papa, jangan dulu ke pasar, masih Covid,” cerita Melinda.

Wanita muda ini pun mulai memasarkan kursi bambu buatan ayahnya melalui media sosial. Hasilnya di luar dugaan. Pesanan datang tak hanya dari Maluku Utara, tetapi juga dari Papua dan Sulawesi.

“Yang dari Papua sementara dikerjakan. Nanti dikirim pakai kapal,” akunya.

Harga satu set kursi bervariasi, tergantung finishing. Kursi yang sudah divernis dan diantar langsung ke rumah pembeli bisa mencapai Rp2 juta, sementara yang belum divernis dijual lebih murah, sesuai kesepakatan.

Namun di balik keberhasilan kecil itu, ada kegelisahan yang tersisa. Kerajinan bambu yang telah menghidupi keluarga Salasa selama puluhan tahun tampaknya akan berhenti di generasi ini.

“Kami bersaudara tidak ada yang ikut papa. Tidak bisa buat kursi bambu,” ujar Melinda pelan.