Penulis: Herman Oesman*
Dosen Sosiologi FISIP UMMU

“Uwa merupakan sunyi yang penuh makna”

Ini kisah tentang sosok lelaki yang paling berpengaruh bagi anak-anaknya.

Ada sosok lelaki yang jarang bercerita tentang lelahnya, tetapi selalu memastikan orang lain dapat beristirahat. Ia berjalan di belakang, bukan untuk menjadi bayangan, melainkan untuk menjaga arah tetap lurus. Ia, oleh cucu dan cicit dipanggil uwa, sebagaimana penyebutan lain yang sama : kakek, tete, aki, dan lain-lain sebutan. Sebuah kata sederhana yang memuat dunia yang justru tidak sederhana.

Uwa, sosok lelaki itu, tidak selalu pandai dan terlatih merangkai kalimat kasih. Tangannya lebih fasih daripada lisannya. Dari telapak tangannya, kita belajar tentang kulit yang retak, dari wajahnya yang mulai mengeriput dan menua kita belajar tentang kerja yang mengendap menjadi doa-doa. Setiap garis kasar di sana merupakan catatan perjalanan waktu. Pagi yang terlalu dini, di mana usai sujud dalam subuh, uwa melangkah membelah laut, pergi berdagang dari pulau ke pulau. Siang yang terlalu panas, uwa tabah menahannya, dan malam yang terlalu panjang, uwa melepas tekanan dalam tidur, dalam dengkur kelelahan. Ia pulang membawa debu, pulang membawa asa, dan kerap pulang membawa beban tanpa lenguh, tetapi menyembunyikan letih agar rumah tetap terasa utuh.

Dalam ingatan banyak anaknya, uwa, lelaki itu, merupakan suara langkah di halaman rumah yang tak luas, tatkala denting kunci pintu yang berkarat berderit, desis lampu petromax yang dipadamkan di pertengahan malam, lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an saat saban malam ramadan, atau batuk kecil sebelum masuk ruang kamar. Tapi, uwa hadir sebagai kepastian: minyak untuk petromax rumah tetap tersedia dan menyalakan cahaya, buku sekolah tetap terbeli, dan dapur tetap berasap. Kadang ia tak tampak di meja makan karena kerja yang memanggil; kadang ia duduk diam tanpa kata, memandangi anak-anaknya seperti membaca masa depan yang belum tertulis.

Kerap keluarga dipandang sebagai ruang pertama pembentukan makna hidup. Keluarga merupakan tempat manusia mengalami “pembiasaan realitas”, di mana nilai, disiplin, dan tanggung jawab diwariskan melalui praktik sehari-hari. Uwa, dalam ruang itu, bukan sekadar pencari nafkah; ia merupakan penjaga simbol keteguhan. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.
Namun uwa juga manusia, bukan patung kesabaran.

Ada kegelisahan yang ia simpan di balik senyum yang begitu tulus walau didera ketidakpastian. Ia mungkin pernah gagal, mungkin pernah kehilangan arah, mungkin pernah duduk sendiri di tepi malam bertanya apakah usahanya cukup. Tetapi cinta seorang uwa kerap tidak mencari pengakuan; ia berjalan dalam diam.

Sementara anak-anak, demikian tulis Khalil Gibran dalam *The Prophet* (1923), bukan milik orang tua, melainkan kehidupan yang merindukan dirinya sendiri. Uwa memahami itu dengan caranya sendiri : ia melepaskan sambil tetap menjaga.
Ada masa ketika seorang anak mulai mengerti bahwa bahu seorang uwa tidak selalu tegap. Rambutnya memutih, langkahnya melambat, dan suaranya tak lagi keras. Saat itu kesadaran datang seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Uwa pernah muda, pernah takut, pernah bermimpi. Ia bukan sekadar figur; ia merupakan cerita panjang tentang harapan yang dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam banyak masyarakat, uwa juga merupakan jembatan antara tradisi dan perubahan. Ia membawa memori tentang laut, dan tanah, sekaligus mendorong anak-anaknya menyeberang ke dunia pendidikan dan pengetahuan. Mungkin itu yang dimaksud pembebasan dimulai dari kesadaran. Banyak uwa mungkin tidak membaca teori itu, tetapi mereka mempraktikkan- nya ketika berkata, “Sekolah yang tinggi, supaya hidupmu lebih luas dari hidupku.”

Uwa merupakan ironi yang lembut. Ia bisa tampak keras, tetapi diam-diam rapuh ketika anaknya terluka. Ia bisa pelit kata, tetapi murah pengorbanan. Dalam dirinya, cinta mengambil bentuk kerja. Ia tidak selalu hadir dalam pelukan, tetapi selalu ada dalam keberlanjutan hidup yang ia jaga.
Ketika waktu bergerak lebih jauh, seorang anak akan menemukan dirinya mengulang kebiasaan uwa : cara berjalan, cara menatap, bahkan cara diam. Saat itu, uwa tidak lagi hanya sosok di luar diri; ia menjadi bagian dari batin yang menetap. Kita menyadari bahwa warisan terbesar uwa bukanlah harta, melainkan daya tahan untuk menghadapi dunia.

Pada akhirnya, menulis tentang uwa merupakan menulis tentang perjalanan pulang. Sebab sejauh apa pun seseorang pergi, ia membawa satu bayangan yang tidak pernah benar-benar hilang: seorang lelaki yang pernah berdiri di belakangnya, menahan beban agar langkahnya tetap maju. Uwa mungkin tidak meminta dikenang, tetapi hidup selalu mengingatkanny, dalam keberanian mengambil keputusan, dalam kesabaran menanggung beban, dan dalam cinta yang memilih bekerja daripada berbicara.

Uwa merupakan sunyi yang penuh makna. Ia tidak selalu terdengar, tetapi tanpanya, banyak kehidupan kehilangan gema. Ahad, 15 Februari 2026, jelang ramadan 1447 H., saat senja mulai meluruh, uwa pergi dalam usia begitu sepuh, 84 tahun, meninggalkan cinta, harapan, dan petuah baik bagi anak, cucu, dan cicit yang menyesap ke dalam batin.[*]