Penulis: Muajmin Soa Bobo, Jurnalis Mekarnews.com*

Di dompetnya, terselip selembar foto kecil yang warnanya mulai pudar.
Bukan foto wisuda.
Bukan foto bersama teman.

Itu foto ibunya.

Berdiri di depan rumah papan yang catnya mengelupas, memakai mukena putih yang sedikit menguning dimakan waktu.

Namanya Rafi.

Sejak kecil, ia menyimpan satu niat yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun:
menaikkan ibunya haji.

Bukan karena ia anak paling saleh.
Bukan juga karena ia paling berbakti.

Ia hanya terlalu sering melihat ibunya menunda mimpi demi bertahan hidup.

Dulu, suatu sore saat listrik padam dan mereka duduk di teras, ibunya pernah berkata sambil tertawa kecil,

“Kalau rezeki mama panjang, mama mau lihat Ka’bah sekali saja sebelum mati.”

Kalimat itu terdengar ringan.
Tapi bagi Rafi, itu seperti titipan yang tidak boleh hilang.

Sekarang Rafi sudah bekerja di kota.
Perusahaan logistik. Gajinya cukup, cukup untuk hidup, tapi tidak untuk lega.

Setiap bulan, setelah bayar kos, makan, kirim uang untuk ibu, dan cicilan motor, selalu tersisa sedikit.

Sedikit sekali.

Di ponselnya ada satu catatan.

Tabungan Haji Mama..

Angkanya belum layak disebut harapan.
Lebih mirip permulaan yang belum jelas ujungnya.

Lalu masalah datang.

Perusahaan melakukan pengurangan jam kerja.
Lembur yang dulu jadi penolong, hilang begitu saja.
Penghasilan turun hampir separuh.

Ia tidak di-PHK.
Tapi juga tidak aman.

Tabungan mulai terganggu.

Suatu hari ibunya menelepon, suaranya terdengar serak.

“Cuma batuk biasa,” kata ibunya cepat, sebelum Rafi sempat bertanya.
“Tadi mama beli obat warung saja.”

Rafi terdiam.

Malam itu, ia membuka tabungan haji.
Lalu memindahkan sebagian ke rekening lain.

Untuk kirim tambahan uang.

Angka yang sudah ia kumpulkan berbulan-bulan itu turun drastis.
Seperti melihat mimpi berjalan mundur.

Ia tidak bilang apa-apa pada ibunya.

Ia hanya menambah jam kerja dengan menjadi ojek online malam hari.
Kadang sampai pukul dua dini hari.
Kadang lebih.

Tubuhnya mulai sering gemetar karena kurang tidur.
Suatu malam, di tengah hujan, motornya mogok.

Ia duduk di pinggir jalan, basah kuyup, menatap layar ponsel yang menunjukkan saldo tabungannya.

Angkanya kecil.

Terlalu kecil untuk mimpi sebesar itu.

Untuk pertama kalinya, ia berpikir hal yang selama ini ia tolak:

Bagaimana kalau ia tidak pernah mampu?

Bagaimana kalau waktu ibunya lebih cepat daripada tabungannya?

Pikiran itu menakutkan.

Lebih menakutkan dari gagal kerja.
Lebih menakutkan dari utang.

Beberapa hari kemudian, ia mendapat tawaran kerja di perusahaan lain.
Gajinya lebih besar.

Tapi kontraknya tidak jelas.
Perusahaannya baru.
Risikonya tinggi.

Jika gagal, ia bisa kehilangan semuanya.

Jika bertahan di tempat lama, ia aman.
Tapi mungkin terlalu lambat.

Malam itu, ia membuka laci kecil di kamar kosnya.
Mengeluarkan buku tabungan.
Mengeluarkan foto kecil ibunya.

“Ibu…” suaranya hampir tak terdengar.
“Kalau aku salah langkah, maaf ya.”

Tak ada jawaban.
Hanya kipas angin yang berderit pelan.

Ia menatap angka di buku tabungan.
Lalu menatap foto ibunya lagi.

Di foto itu, ibunya tersenyum.
Seolah tidak pernah tahu betapa berat mimpi yang sedang dipikul anaknya.

Rafi tidak langsung membuat keputusan malam itu.

Ia hanya menutup buku tabungan.
Menyelipkan kembali foto itu ke dompetnya.
Dan berbaring tanpa benar-benar tidur.

Besok paginya, ia bangun lebih awal.

Tidak ada keajaiban.
Tidak ada pesan masuk berisi kabar baik.
Tidak ada angka besar yang tiba-tiba muncul.

Ia hanya duduk, membuka catatan di ponselnya, dan menambahkan satu angka kecil lagi.

Kecil.
Hampir tidak berarti.

Tapi bertambah.

Di luar, matahari belum sepenuhnya terbit.
Langit masih abu-abu.

Rafi menatap layar itu lama.

Ia belum tahu apakah akan mengambil pekerjaan baru itu atau tidak.
Ia belum tahu apakah waktunya cukup.
Ia belum tahu apakah tabungannya akan pernah cukup.

Yang ia tahu hanya satu:

Mimpinya belum ia lepaskan.

Dan entah siapa yang lebih kuat menahan waktu,
tabungannya,
tekadnya,
atau doa seorang ibu
yang setiap sujudnya mungkin sudah lebih dulu sampai
ke tempat yang belum bisa ia capai.

Cerita berhenti di sana.

Bukan karena selesai.
Tapi karena perjuangan seperti itu memang jarang punya garis akhir yang jelas.

Kadang ia hanya punya dua hal…

Selembar foto yang mulai pudar.
Dan janji yang belum tahu kapan bisa ditepati.