Penulis: M. GHAZALI FARAMAN*
(Mahasiswa Desa Maidi)
SESAAT lagi, sang waktu akan mengantarkan kita pada sebuah ambang pintu yang agung—sebuah muara cahaya yang kita kenal sebagai Ramadhan. Bulan suci ini datang bukan sekadar tamu tahunan yang mengetuk kalender rutinitas, melainkan “jeda semesta” yang mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang kian bising dan banal. Di tengah deru ambisi yang kerap menyesatkan arah pulang, Ramadhan hadir membawa aroma ketenangan, mengundang setiap jiwa menanggalkan jubah keangkuhannya di hadapan Sang Maha Rahman.
Menyambut kedatangannya, tugas pertama kita bukanlah memadati ruang-ruang konsumsi, melainkan melakukan navigasi batin yang paling purba: menata hati. Dalam kerumitan hidup modern, hati sering kali serupa cermin yang tertimbun debu egoisme, prasangka, dan pameran kemewahan yang melelahkan. Puasa, dalam esensinya yang paling liris, adalah instrumen langit untuk membasuh cermin itu. Ia adalah proses pengosongan diri agar kita kembali mampu melihat pantulan kemanusiaan yang jernih. Menata hati di ambang Ramadhan berarti menyiapkan ruang sunyi di dalam dada—sudut hening tempat kejujuran dan ketulusan kembali bertahta, jauh dari formalitas ritual yang hampa makna.
Namun spiritualitas sejati tidak tumbuh dalam keterasingan yang egois. Cahaya yang telah ditata di dalam hati harus berpendar keluar, menembus sekat-sekat sosial dalam wujud empati. Ramadhan adalah madrasah kemanusiaan yang mengajarkan bahwa lapar yang kita pilih secara sadar merupakan potret penderitaan abadi bagi jutaan jiwa yang terhimpit nasib. Di sinilah ujian kesalehan bermula. Jika puasa hanya membuat kita lemas tanpa membuat kita peduli pada piring tetangga yang kosong, maka barangkali kita hanya sedang melakukan aksi mogok makan yang sia-sia di hadapan Tuhan.
Empati yang dibangun selama Ramadhan semestinya menjadi “revolusi sunyi” yang meruntuhkan tembok kasta ekonomi. Di tengah situasi global dan lokal yang kian menantang, solidaritas tidak boleh berhenti pada retorika atau sekadar sedekah musiman. Ia harus menjelma kesadaran kolektif untuk saling menjaga.
Sebagai anak muda yang tumbuh dalam dekapan hangat kearifan lokal Desa Maidi, saya teringat bahwa Ramadhan di desa adalah tentang simfoni kebersamaan—tangan-tangan renta yang saling mengulur hantaran makanan, doa-doa yang membumbung dari sela atap surau tua, serta kesederhanaan yang terasa begitu kaya. Nilai-nilai bersahaja itulah yang perlu kita panggil kembali: merasa cukup dalam kesederhanaan dan merasa kaya dalam berbagi.
Namun di balik narasi besar tentang transformasi batin dan sosial ini, ada ruang sunyi di sudut sukma saya yang paling dalam. Ramadhan kali ini membawa semilir rindu yang terasa lebih perih karena jarak yang membentang.
Kepada Ayahanda tercinta, Faraman Jumati, dan Ibunda tersayang, Nuraya Taher, mohon maafkan putra kalian yang tahun ini belum bisa bersimpuh di haribaan saat fajar pertama menyingsing. Di meja sahur nanti mungkin ada satu kursi kosong dan satu piring tak terisi. Namun ketahuilah, doa-doa saya akan memenuhi setiap sudut rumah kita di Desa Maidi.
Ayah, engkau adalah simbol keteguhan—karang yang mengajarkan saya berdiri tegak meski badai menerjang. Ibu, engkau telaga empati yang airnya tak pernah kering membasahi dahaga jiwa. Meski raga tertahan di perantauan dan tak dapat mengecap hangatnya masakan Ibu di sahur pertama, bayang wajah kalian adalah kompas yang menjaga hati tetap tertata di tengah riuhnya kota. Kerinduan ini menjadi bukti bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, rumah adalah tempat kasih sayang tak mengenal batas, jarak, maupun waktu.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang yang paling puitis: pulang menuju Tuhan dalam ketaatan, pulang menuju sesama dalam empati, dan bagi saya, pulang menuju ingatan hangat tentang Ayah dan Ibu. Semoga di ambang bulan seribu bulan ini, kita bukan hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menundukkan ego demi menjadi pribadi yang lebih bercahaya bagi sesama.
Selamat datang, Ramadhan. Dari kejauhan, doa dan rindu ini saya hantarkan sebagai hidangan sahur pertama bagi jiwa saya sendiri.



Tinggalkan Balasan