Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta), Kombes Pol. Ampi Mesias Von Bulow, memimpin langsung mediasi antara suporter Poram Mareku dan Perstug Kelurahan Tuguiha yang sempat memanas usai laga Gurabati Open Tournament (GOT) XXVIII 2026 akhirnya berakhir damai.

Menariknya, perdamaian itu tidak diikat dengan surat pernyataan ataupun dokumen kesepakatan, melainkan dibangun di atas kepercayaan dan komitmen menjaga persaudaraan.

Mediasi yang dipimpin langsung Kapolresta Tidore, Kombes Pol. Ampi Mesias Von Bulow, S.I.K., M.H., berlangsung di Mapolresta Tidore, Selasa (30/6/2026).

Pertemuan tersebut mempertemukan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, serta pemerintah Kelurahan Mareku dan Kelurahan Tuguiha untuk mengakhiri ketegangan yang muncul pascapertandingan pada Minggu (28/6/2026).

Selain membahas insiden yang memicu gesekan antarsuporter, forum mediasi juga mengulas aksi pemalangan jalan yang sempat terjadi di Kelurahan Tuguiha sebagai dampak dari konflik tersebut.

Kapolresta Tidore menegaskan bahwa mediasi dilakukan demi mengembalikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif, sekaligus menjaga hubungan baik antarkedua kelurahan.

“Mediasi ini kami lakukan untuk mengatasi konflik yang terjadi antara masyarakat Mareku dan Tuguiha. Kami berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan sehingga hubungan baik antarwarga tetap terjaga,” ujar Ampi Mesias Von Bulow.

Hal yang paling mencuri perhatian dalam proses mediasi tersebut adalah keputusan untuk tidak membuat surat pernyataan ataupun surat kesepakatan.

Menurut Kapolresta, langkah itu merupakan bentuk kepercayaan penuh kepolisian kepada masyarakat Kota Tidore Kepulauan.

“Kami sangat percaya kepada masyarakat Kota Tidore. Karena itu, tidak ada surat pernyataan yang dibuat. Kepercayaan ini kami kembalikan kepada masyarakat Mareku dan Tuguiha agar bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan persaudaraan,” tegasnya.

Dari pihak Mareku, perwakilan pemuda Saiful Abubakar menegaskan bahwa masyarakat tidak mengajukan tuntutan yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan adanya itikad baik dari warga Tuguiha sebagai bentuk penyelesaian persoalan.

“Tuntutan kami hanya satu, yaitu kami berharap warga Tuguiha atau perwakilannya datang ke Mareku untuk meminta maaf kepada masyarakat Mareku. Itu yang kami harapkan agar persoalan ini selesai dengan baik dan hubungan persaudaraan antarkelurahan kembali seperti semula,” katanya.

Plt. Lurah Mareku, Anwar Syahdan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya mediasi tersebut. Ia berharap insiden serupa tidak kembali terjadi dan mengajak seluruh masyarakat menjaga perdamaian yang telah tercipta.

Ia juga mengimbau para suporter Poram Mareku agar tetap menjunjung tinggi sportivitas saat mendukung tim kebanggaan mereka, serta menghindari teriakan maupun ucapan yang dapat menyinggung pihak lain saat menyaksikan pertandingan di Gurabati.

Sementara itu, Lurah Tuguiha, Abbas Muhammad, mengajak masyarakat menghormati hasil mediasi dan tidak lagi melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

“Alhamdulillah, persoalan antara Mareku dan Tuguiha sudah selesai melalui mediasi di Polresta Tidore. Tokoh adat, Sangaji, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta pemerintah kelurahan telah bersama-sama menyelesaikan persoalan ini. Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak lagi melakukan tindakan yang dapat menimbulkan akibat hukum. Jika hal tersebut terjadi, maka itu menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing,” ujarnya.

Abbas juga mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan media sosial dan menghindari komentar provokatif yang berpotensi memicu konflik maupun melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Mari sama-sama kita jaga persaudaraan. Bagi masyarakat yang menggunakan media sosial, jangan lagi membuat komentar yang dapat memicu konflik atau melanggar aturan hukum. Torang samua basudara,” pesannya.

Sebagai bentuk nyata dari perdamaian yang telah dibangun, kedua belah pihak juga sepakat untuk saling bersilaturahmi dengan mengunjungi Kelurahan Mareku maupun Kelurahan Tuguiha. Langkah tersebut diharapkan menjadi awal baru dalam mempererat kembali hubungan kekeluargaan yang sempat terganggu akibat insiden pascapertandingan.

Dengan berakhirnya mediasi tersebut, seluruh pihak berharap konflik yang sempat mencuat usai Gurabati Open Tournament XXVIII benar-benar menjadi pelajaran berharga. Semangat sportivitas, persaudaraan, dan saling menghormati diharapkan tetap menjadi fondasi utama dalam setiap perhelatan olahraga, sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Tidore Kepulauan senantiasa terjaga.

Andi Naser
Editor
Rama
Reporter