Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, ketika gema takbir mulai menyelimuti kampung-kampung, Rasid Musa (51), warga Desa Sigela Yef, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, hanya bisa terbaring di atas karpet di rumah sederhananya.
Menurut keterangan kerabatnya, selama tiga bulan terakhir, Rasid tak lagi mampu berdiri sejak terjatuh dari pohon kelapa, pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Hingga kini, ia belum mendapatkan penanganan medis. Bukan karena tidak ingin berobat, melainkan keterbatasan biaya yang tidak sebanding dengan kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada penghasilan harian.
Di saat banyak orang sibuk menyiapkan pakaian baru dan hidangan Lebaran, Rasid menghadapi kenyataan sebaliknya: tubuh yang kian melemah dan hari-hari yang dilalui dengan rasa sakit. Lebaran tahun ini bukan tentang perayaan, tetapi tentang bertahan.
Di tengah kondisi yang dialaminya, perhatian terhadap Rasid belum terlihat hadir secara nyata. Sekian lama sakit, belum tampak uluran tangan dari pemerintah setempat.
Respons dari pemerintah Desa Sigela Yef pun belum menunjukkan langkah yang memadai dalam menjawab kebutuhan warganya yang tengah membutuhkan penanganan.
Sementara itu, perhatian dari pemerintah Kota Tidore Kepulauan masih menjadi harapan agar penanganan terhadap kondisi seperti ini dapat lebih diperhatikan ke depan.
Kisah ini menjadi potret sunyi di tengah gemuruh hari kemenangan—tentang seorang kepala keluarga yang terbaring tanpa kepastian, menanti kepedulian agar bisa kembali bangkit dan menjalani hidup dengan layak.



Tinggalkan Balasan