Di tengah ambisi besar Indonesia mendorong hilirisasi nikel sebagai motor pertumbuhan ekonomi, sebuah peringatan keras datang dari timur negeri. Pulau Obi di Maluku Utara kini menjadi simbol dari sisi gelap ekspansi industri ekstraktif yang melaju lebih cepat daripada kesiapan perlindungan lingkungan dan keselamatan manusia.

Laporan terbaru dari Earthworks memperkuat kekhawatiran yang selama ini disuarakan WALHI. Ekspansi industri nikel dinilai tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan limbah yang memadai, membuka potensi krisis ekologis berskala besar.

Situasi di Pulau Obi, khususnya di Desa Kawasi dan Desa Soligi, disebut telah memasuki fase darurat. Dalam sebuah diskusi daring, Direktur Eksekutif WALHI Maluku Utara, Astuti N. Kilwouw, menegaskan bahwa ancaman yang terjadi bukan lagi sekadar potensi.

“Ini bukan lagi soal kemungkinan. Warga sudah merasakan dampaknya setiap hari—air bersih tercemar, banjir berulang, dan kualitas udara memburuk. Ini bukti nyata kegagalan sistem pengelolaan limbah,” ujarnya.

Sorotan utama tertuju pada infrastruktur tailing—tempat penyimpanan limbah tambang—yang dinilai berisiko tinggi. WALHI memperingatkan bahwa indikasi kegagalan sistem ini dapat berujung pada bencana besar, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi dan kerentanan gempa seperti Obi.

Alih-alih memperbaiki akar persoalan, pendekatan yang diambil justru menuai kritik. Relokasi warga ke kawasan yang disebut “Eco Village” dianggap sebagai solusi semu. Menurut WALHI, langkah tersebut hanya memindahkan dampak, bukan menyelesaikan sumber masalah.

“Memindahkan warga bukan solusi. Yang harus diubah adalah praktik buruk dalam pengelolaan tambang. Jika pencemaran tetap terjadi, krisis hanya akan berpindah tempat,” tegas Astuti.

Kekhawatiran juga muncul terhadap penggunaan teknologi tailing difilter yang dinilai belum teruji dalam kondisi geografis ekstrem Indonesia. Meski diklaim lebih aman, kombinasi hujan lebat dan aktivitas seismik membuat risiko kegagalan tetap tinggi.

Dengan luas wilayah sekitar 3.048 km², Pulau Obi dinilai sangat rentan terhadap tekanan industri berskala besar. Warga kini menghadapi ancaman berlapis—mulai dari banjir, krisis air bersih, pencemaran sungai, hingga polusi udara.

Earthworks mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah tegas, termasuk moratorium penambahan limbah dan penghentian pembangunan fasilitas baru hingga standar keselamatan diperketat.

Panduan internasional seperti Safety First: Guidelines for Responsible Mine Tailings Managementdisebut sebagai acuan penting untuk mencegah tragedi.

Selain itu, transparansi, inspeksi independen, dan keterlibatan masyarakat lokal dinilai krusial sebelum aktivitas industri dilanjutkan.

Di tengah upaya menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok nikel global, peringatan dari Pulau Obi menjadi pengingat penting: tanpa pengawasan ketat dan regulasi yang kuat, pertumbuhan ekonomi berisiko dibayar mahal dengan bencana ekologis.

Kini, sorotan publik tertuju pada pemerintah dan pelaku industri—termasuk operasi besar seperti PT Harita Nickel—untuk menentukan arah: melanjutkan ekspansi, atau membenahi fondasi keselamatan sebelum semuanya terlambat.

Redaksi
Editor