Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau berkepanjangan yang mulai mengganggu sektor pertanian. Melalui Dinas Pertanian, pendataan petani terdampak terus dilakukan sebagai langkah awal mitigasi, sekaligus menyiapkan strategi penanganan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kepala Dinas Pertanian Kota Tidore Kepulauan, Fauzi Robo, mengatakan pendataan telah dilakukan di seluruh kecamatan. Hingga saat ini, laporan telah diterima dari Kecamatan Tidore Timur, Tidore Selatan, Tidore Utara, dan Oba Utara, sementara Kecamatan Oba Tengah dan Oba Selatan masih dalam proses penyampaian data.

“Berdasarkan data sementara yang telah masuk, terdapat sekitar 115 petani yang terdampak musim kemarau. Mayoritas merupakan petani yang sedang memasuki masa tanam sehingga sangat membutuhkan pasokan air untuk menjaga pertumbuhan tanaman,” ujar Fauzi, Selasa (4/8/2026).

Menurut Fauzi, seluruh data petani terdampak telah diserahkan kepada BPBD Kota Tidore Kepulauan sebagai dasar penyaluran bantuan sekaligus penyusunan langkah-langkah penanganan. Koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar respons terhadap dampak kekeringan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.

Selain langkah darurat, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan juga menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko kekeringan di sektor pertanian. Salah satunya melalui pembangunan bak penampungan air atau embung di kawasan pertanian sebagai cadangan air saat musim kemarau.

Keberadaan embung tersebut diharapkan dapat memudahkan distribusi air kepada lahan pertanian ketika terjadi kekeringan, sekaligus meningkatkan ketahanan sektor pertanian menghadapi perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.

“Kami sudah melakukan langkah-langkah antisipasi untuk membantu para petani menghadapi musim kemarau. Harapan kami, seluruh upaya yang dilakukan dapat berjalan dengan baik sehingga aktivitas pertanian tidak mengalami kendala yang berarti,” tutup Fauzi.

Pemerintah berharap sinergi antara Dinas Pertanian, BPBD, dan para petani dapat meminimalkan dampak kemarau terhadap produksi pertanian, sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga di tengah ancaman cuaca ekstrem.

Andi Naser
Editor
Andi Naser
Reporter