Tri Sutomo, fotografer di Tidore, tetap mempertahankan Studio Jati selama 15 tahun di tengah pandemi dan perkembangan teknologi. Dengan peralatan sederhana, ia terus melayani kebutuhan foto warga sekaligus menghidupi keluarganya.
TIDORE – MUAJMIN HUDIN
DI kawasan Pasar Tua Sarimalaha, Kota Tidore Kepulauan, waktu seperti berjalan dengan caranya sendiri.
Bangunan-bangunan tua berdiri di antara gang-gang sempit. Cat yang mulai mengelupas menjadi tanda bahwa tempat itu telah melewati banyak musim. Sebagian dinding tampak kusam dimakan usia. Namun, kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti. Warga tetap beraktivitas, datang dan pergi, menjalani rutinitas seperti biasa.
Di tengah kawasan itu, ada sebuah studio kecil yang masih bertahan. Tak ada papan nama besar atau ruangan luas dengan peralatan fotografi yang serba modern. Hanya sebuah ruang sederhana yang menjadi tempat seorang pria menekuni pekerjaannya selama bertahun-tahun. Namanya Tri Sutomo.
Siang itu, Rabu, 3 September 2026, ketika awak media tiba di kawasan bangunan tua tersebut, Tri masih duduk di depan komputer. Tatapannya tertuju pada layar. Tangannya perlahan menggerakkan mouse, menyelesaikan sebuah foto.
Usianya kini 37 tahun. Namun, sebagian besar perjalanan hidupnya di Tidore telah dihabiskan bersama kamera, komputer, dan printer. Sudah 15 tahun Tri menekuni pekerjaan sebagai fotografer kilat atau foto ekspres. Dari ruang sederhana itu, ia melayani berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pasfoto, foto ijazah, hingga foto untuk dokumen administrasi.
Perjalanan itu bermula pada 2010. Saat itu, Tri datang ke Tidore setelah diajak oleh saudaranya yang lebih dahulu menetap di daerah tersebut. Ia awalnya hanya mengikuti sang saudara. Namun, seiring waktu, ia mencoba membuka usaha foto sendiri.
“Saya datang ke Tidore awalnya ikut saudara. Lama-lama saya coba buka usaha foto dan ternyata sampai sekarang masih bertahan,” ujar Tri.
Sejak saat itu, rutinitasnya nyaris tak berubah. Kamera menjadi alat untuk menangkap gambar. Komputer digunakan untuk mengolah hasil jepretan. Printer kemudian menyelesaikan pekerjaan sebelum selembar foto berpindah ke tangan pelanggan.
Sederhana, tetapi dari pekerjaan itulah Tri menghidupi keluarganya. Lima belas tahun menjalankan usaha tentu bukan perjalanan tanpa hambatan. Salah satu masa paling berat datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan aktivitas membuat pergerakan masyarakat berkurang. Sekolah dan berbagai kegiatan terhenti. Orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Bagi usaha kecil seperti milik Tri, perubahan itu terasa langsung. Studio yang biasanya didatangi pelanggan menjadi lebih sepi. Kebutuhan masyarakat terhadap jasa foto ikut menurun. Penghasilan yang selama ini menjadi sandaran keluarga pun ikut terdampak.
“Waktu pandemi paling terasa. Orang jarang keluar dan kebutuhan foto juga berkurang. Penghasilan waktu itu turun sekali,” katanya.
Pada masa itu, Tri sempat berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Tidak ada kepastian kapan keadaan akan kembali normal. Tidak ada pula jaminan bahwa usahanya dapat bertahan. Namun, ia memilih tetap bertahan.
Perlahan, kehidupan kembali bergerak. Sekolah dibuka. Aktivitas masyarakat mulai berjalan. Keperluan administrasi kembali muncul. Orang-orang kembali membutuhkan pasfoto untuk berbagai kepentingan.
Studio kecil itu pun kembali memiliki pelanggan. Pandemi berlalu, tetapi zaman ternyata belum selesai menghadirkan tantangan. Kini hampir setiap orang membawa kamera di dalam sakunya. Foto dapat diambil kapan saja dan di mana saja. Berbagai aplikasi memungkinkan pengguna mengedit gambar sendiri. Bahkan teknologi kecerdasan buatan membuat proses penyuntingan foto semakin mudah.
Bagi bisnis fotografi sederhana seperti milik Tri, perubahan itu tentu menjadi tantangan. Namun, Tri memilih melihatnya dengan cara yang berbeda.
“Sekarang orang sudah bisa foto sendiri pakai HP dan edit sendiri. Tapi masih ada yang datang karena mereka butuh hasil yang langsung jadi atau untuk keperluan tertentu,” tuturnya.
Ia memahami bahwa teknologi telah mengubah kebiasaan masyarakat. Tetapi ia juga tahu bahwa masih ada kebutuhan yang membuat orang datang ke studionya. Misalnya, buat pasfoto untuk sekolah. Foto untuk melamar pekerjaan. Foto untuk dokumen administrasi. Kebutuhan-kebutuhan sederhana yang mungkin terlihat kecil, tetapi menjadi alasan studio itu tetap memiliki pelanggan.
Tri pun tidak merasa harus melawan perubahan. Ia hanya perlu terus bekerja. Peralatan yang digunakannya juga tidak selalu yang terbaru. Kamera, komputer dan printer yang masih berfungsi tetap dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan.
“Kalau masih bisa dipakai, saya gunakan. Tidak harus selalu yang baru. Yang penting pekerjaan selesai dan pelanggan puas,” katanya.
Kalimat itu barangkali menjadi gambaran paling sederhana tentang cara Tri mempertahankan usahanya. Bukan dengan mengejar segala sesuatu yang baru, melainkan dengan memaksimalkan apa yang masih bisa digunakan. Studio kecil itu memiliki nama: Studio Jati.
Menurut Tri, nama tersebut diberikan oleh saudaranya. Nama itu dimaknai sebagai perpaduan antara Jawa dan Tidore—dua tempat yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Tri datang dari Jawa. Ia kemudian menetap di Tidore, bekerja, membangun usaha, dan menghidupi keluarganya dari sebuah ruang sederhana. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu pula banyak hal berubah.
Bangunan-bangunan tua terus menua. Masyarakat mulai terbiasa dengan kamera ponsel. Teknologi fotografi berkembang. Cara orang membuat dan mendapatkan foto pun berubah. Tetapi Tri masih berada di tempatnya. Kamera masih digunakan. Komputer masih menyala. Printer masih bekerja.
Dan pelanggan masih datang. Ada anak sekolah yang duduk di depan kamera untuk membuat pasfoto. Ada warga yang membutuhkan foto untuk dokumen administrasi. Ada pula orang-orang yang datang dengan kebutuhan fotografi lainnya.
Bagi pelanggan, mungkin yang mereka dapatkan hanyalah selembar foto. Bagi Tri, setiap lembar foto memiliki arti yang lebih panjang. Sebab dari lembar-lembar kecil itulah ia mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Yang penting saya masih bisa bekerja. Dari usaha ini saya bisa membantu kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Siang itu, aktivitas Pasar Tua Sarimalaha terus berlangsung. Di dalam Studio Jati, Tri kembali menatap layar komputer. Sebuah foto sedang dikerjakannya. Ia melakukan penyuntingan seperlunya, memastikan hasilnya sesuai kebutuhan pelanggan.
Tak lama kemudian, suara printer terdengar dari sudut ruangan. Mesin itu bekerja. Selembar foto perlahan keluar. Satu pekerjaan selesai. Bagi orang lain, lembar kecil itu mungkin hanya foto yang diperlukan untuk melengkapi sebuah dokumen. Namun bagi Tri, foto itu adalah bagian dari perjalanan panjang.
Tentang seorang perantau yang datang ke Tidore pada 2010. Tentang usaha kecil yang pernah terpuruk ketika pandemi datang. Tentang teknologi yang terus berkembang dan perlahan mengubah cara manusia mengambil serta mengolah gambar.
Dan tentang pilihan untuk tetap bertahan. Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, Tri tidak sedang berusaha menjadi yang paling modern. Ia hanya ingin terus bekerja.
Selama kamera masih bisa digunakan, komputer masih menyala, printer masih mencetak, dan masih ada orang yang membutuhkan jasanya, ia akan tetap membuka pintu Studio Jati. Sebab terkadang, bertahan bukan tentang memiliki sesuatu yang besar.
Bertahan adalah tentang tetap menyalakan lampu di sebuah ruang kecil, menunggu pelanggan datang, lalu menyelesaikan satu pekerjaan demi satu pekerjaan. Dan bagi Tri Sutomo, dari ruang sederhana di Pasar Tua Sarimalaha itulah kehidupan terus berjalan.


Tinggalkan Balasan