Di balik lapak kecil dan dagangan barito yang sederhana, ada perjuangan besar seorang ayah. Husain mungkin tidak selalu membawa pulang banyak uang, tetapi dari keringatnya lahir sebuah kebanggaan: mengantar anak perempuannya menyelesaikan pendidikan hingga sarjana.
TIDORE – Muajmin Hudin
Matahari sedang berada tepat di atas kepala ketika lorong-lorong Pasar Gosale, Kota Tidore Kepulauan, mulai terasa menyengat.
Panas menempel di lantai pasar. Udara seolah berhenti di antara lapak-lapak pedagang. Orang-orang masih berlalu-lalang. Ada yang menawarkan dagangan, ada yang menawar harga, sementara sebagian lainnya memilih berjalan melewati lapak tanpa membeli, harga rica kian pedas.
Bagi pembeli, kenaikan harga berarti mengurangi jumlah belanja. Namun bagi pedagang kecil, perubahan harga bisa berarti lebih dari sekadar angka. Ada dagangan yang harus disesuaikan, keuntungan yang harus dihitung ulang, dan harapan kembali ditenun sembari menunggu datangnya pembili.
Di pojok pasar Gosale, seorang lelaki paruh baya duduk tenang di balik lapaknya. Namanya Husain Soleman, usianya 64 tahun. Warga Kelurahan Tuguwaji, Kota Tidore Kepulauan, itu sudah enam tahun menggantungkan hidup dari lapak kecil yang menjual barito—bawang, rica, tomat, dan kebutuhan dapur lainnya.
Kulitnya menggelap, seperti menyimpan jejak panjang persahabatan dengan matahari. Sebuah topi sederhana menutupi kepalanya. Tatapannya tetap tajam meski usia tak lagi muda. Tangannya sesekali bergerak merapikan dagangan, memastikan barito di hadapannya tetap terlihat rapi bagi siapa saja yang datang.
Tidak ada yang istimewa dari lapak itu. Namun di balik meja sederhana tersebut, tersimpan cerita panjang tentang seorang ayah yang bertahun-tahun bekerja untuk satu tujuan: memastikan anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Dari Kuli Bangunan ke Lapak Barito sebelum berjualan di Pasar Gosale, Husain pernah menjadi kuli bangunan di Kota Ternate.
Pekerjaan itu dijalaninya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tenaga menjadi modal utama. Panas, lelah, dan beratnya pekerjaan harus ditukar dengan penghasilan untuk dibawa pulang. Setelah kembali ke Tidore, ia kemudian memilih berjualan barito. Bukan karena berdagang merupakan pekerjaan yang mudah. Justru sebaliknya.
Setiap hari, Husain harus berhadapan dengan ketidakpastian. Tidak ada jaminan berapa banyak dagangan yang akan terjual. Tidak ada kepastian berapa rupiah yang bisa dibawa pulang.
“Kalau banyak orang belanja, penghasilan lumayan. Kalau sepi, ya penghasilan juga berkurang,” tuturnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, itulah kehidupan Husain selama bertahun-tahun. Hari ramai berarti sedikit kelonggaran. Hari sepi berarti harus lebih berhitung.
Di situlah ia belajar bahwa mencari nafkah bukan hanya soal bekerja keras, tetapi juga tentang bertahan ketika hasil yang didapat tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Menabung dari Uang yang Sedikit. Usia 64 tahun membuat tenaga Husain tidak lagi seperti dulu.
Ia mengaku matanya mulai terasa berat. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya tetap datang ke pasar. Keluarga. Dan lebih jauh dari itu, pendidikan anak.
Dari hasil menjual barito, Husain menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit. Uang hasil dagangan harus dibagi untuk kebutuhan rumah tangga. Sebagian lainnya disimpan untuk membiayai pendidikan anak. Tidak ada jumlah besar yang datang sekaligus. Yang ada hanyalah uang-uang kecil yang dikumpulkan dari hari ke hari.
Dari lapak sederhana. Dari pembeli yang datang silih berganti. Dari rica, bawang, tomat dan berbagai kebutuhan dapur yang berpindah tangan. Sampai akhirnya, kerja keras itu membuahkan hasil.
Anak perempuan Husain berhasil menyelesaikan pendidikan hingga bangku kuliah. Bagi sebagian orang, gelar sarjana mungkin hanya sebuah pencapaian akademik.
Bagi Husain, itu adalah buah dari perjalanan panjang. Ada keringat yang jatuh di bawah terik matahari. Ada hari ketika pasar sepi. Ada dagangan yang tidak habis terjual. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus didahulukan.
Dan ada seorang ayah yang setiap hari kembali duduk di lapaknya.
“Alhamdulillah, anak perempuan saya sudah selesai kuliah dengan hasil keringat saya,” ucap Husain.
Suaranya sederhana.Tetapi kalimat itu seperti merangkum enam tahun lebih perjuangan di pasar, bahkan perjalanan hidupnya jauh sebelum itu.Lapak Kecil, Harapan BesarHusain mungkin tidak memiliki toko besar.
Ia tidak memiliki modal berlimpah. Ia juga tidak bisa memastikan berapa rupiah yang akan dibawa pulang setiap sore. Namun, dari lapak kecil itulah ia pernah menanam sebuah harapan besar.
Ia bekerja agar anaknya bisa belajar. Ia berdagang agar anaknya bisa menyelesaikan pendidikan. Ia menahan lelah agar suatu hari anaknya memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang mungkin berbeda dari dirinya.
Kini, ketika usia mulai mengambil sebagian tenaganya, Husain masih menjalani rutinitas yang sama. Datang ke pasar. Membuka lapak. Menata barito. Menunggu pembeli. Lalu membawa pulang hasil dagangan.
Mungkin jumlahnya tidak seberapa. Tetapi Husain tahu, nilai sebuah perjuangan tidak selalu bisa dihitung dari banyaknya uang yang terkumpul. Kadang, hasil terbaik dari sebuah perjuangan adalah melihat anak yang dahulu dibiayai dengan keringat, akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan.
Di Pasar Gosale, lapak Husain mungkin hanya satu dari sekian banyak lapak yang berjejer. Namun di balik dagangan barito yang tampak sederhana itu, ada cerita tentang keteguhan seorang ayah. Tentang seorang lelaki yang tidak menyerah pada usia. Tentang penghasilan kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dan tentang keringat yang akhirnya menjelma menjadi masa depan.
Sebab bagi Husain, berdagang barito bukan sekadar pekerjaan. Lapaknya adalah tempat ia mempertahankan hidup, sekaligus tempat ia menanam harapan. Dan ketika anak perempuannya berhasil menyelesaikan kuliah, ia tahu: sebagian dari keringat yang jatuh di lapak itu telah berubah menjadi sebuah pencapaian yang akan selalu ia banggakan.


Tinggalkan Balasan