Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tidore Kepulauan menetapkan Kelurahan Gurabati, Kecamatan Tidore Selatan, sebagai sasaran program Kampung Bersih Narkoba atau Kampung Bersinar.
Program ini akan dijalankan selama satu tahun sekaligus menjadi proyek percontohan untuk upaya pencegahan dan pemulihan penyalahgunaan narkoba di tingkat masyarakat.
Kepala BNN Kota Tidore Kepulauan, AKBP Pauzia, S.P., M.Si., mengatakan hal tersebut saat diwawancarai, Rabu (14/10/2026). Menurutnya, program tersebut tidak hanya menyasar kalangan remaja, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat.
Salah satu program yang dijalankan adalah Remaja Teman Sebaya (RTS) dengan melibatkan 10 pemuda dari Kelurahan Gurabati. Peserta akan mendapatkan bimbingan teknis sebanyak empat kali pertemuan untuk memperkuat pengetahuan tentang bahaya narkoba dan kemampuan menyampaikan pesan pencegahan kepada teman sebaya.
Khusus peserta remaja, BNN menyasar siswa kelas II SMP yang aktif menggunakan media sosial dan memiliki kemampuan bersosialisasi. Mereka juga diharapkan aktif dalam organisasi sekolah, seperti OSIS, Pramuka, maupun kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
“Dalam bimtek itu, mereka diberikan wawasan tentang bahaya narkoba sehingga bisa menyampaikan kepada remaja lainnya. Kami juga melatih mereka membuat konten yang bermuatan pencegahan narkoba,” kata Pauzia.
Setiap peserta ditargetkan menyampaikan pengetahuan yang diperoleh kepada sedikitnya 30 orang teman mereka. Dengan 10 peserta, BNN berharap edukasi tersebut dapat menjangkau minimal 300 orang.
Selain menyasar remaja, BNN Tidore menjalankan program ketahanan keluarga dengan melibatkan 10 keluarga. Program ini bertujuan membangun pemahaman bersama tentang bahaya narkoba sekaligus memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak.
Pauzia menilai, komunikasi terbuka dalam keluarga menjadi salah satu benteng penting untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Di tengah kuatnya pengaruh media sosial, hubungan komunikasi antara orang tua dan anak perlu terus diperkuat agar anak berani menceritakan pengalaman maupun menolak ajakan yang berisiko.
“Kalau sudah ada pemahaman, maka terbangun komunikasi yang kuat antara orang tua dan anak secara terbuka,” jelasnya.
Ia mencontohkan pengalaman saat bertugas di wilayah sebelumnya, ketika seorang anak yang mendapat tawaran narkoba dalam perjalanan pulang sekolah berani menolak. Setibanya di rumah, anak tersebut langsung menceritakan kejadian itu kepada orang tuanya.
Menurut Pauzia, keterbukaan semacam itu penting agar orang tua dapat mengetahui situasi yang dihadapi anak dan memberikan pendampingan sejak dini.
BNN juga menyiapkan program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) untuk membantu warga yang membutuhkan pemulihan dari penyalahgunaan narkoba. Program ini mengandalkan agen pemulihan yang berasal dari masyarakat setempat.
Pauzia mengatakan, sebagian orang mungkin merasa takut atau malu mendatangi kantor BNN untuk mencari bantuan. Karena itu, agen pemulihan diharapkan dapat mendekati warga secara persuasif dan membantu menghubungkan mereka dengan layanan yang dibutuhkan.
“Untuk menjadi agen pemulihan, kalau tidak salah, ada lima orang. Mereka bisa berasal dari tokoh pemuda, masyarakat, PKK, atau orang yang pernah terpapar narkoba,” ujarnya.
Para agen tersebut nantinya akan mendapatkan pelatihan mengenai cara mendekati dan berkomunikasi dengan orang yang mengalami penyalahgunaan narkoba. Mereka juga diharapkan mampu memberikan dukungan agar warga bersedia mengakses layanan pemulihan.
Pauzia mengakui, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan program Kampung Bersinar tahun ini difokuskan pada satu kelurahan, yakni Gurabati. Sementara pada tahun sebelumnya, program serupa dilaksanakan di dua kelurahan.
Meski demikian, BNN berharap Gurabati dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Tidore Kepulauan. Keberhasilan program, menurutnya, tidak hanya diukur dari pelatihan yang terlaksana, tetapi juga dari komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan dan meneruskan edukasi setelah program berakhir.
“Kami berharap ke depan program ini bisa ditularkan ke kelurahan lain. Setelah pelatihan, masyarakat harus tetap berkomitmen, menjaga kebersamaan, dan merawat hubungan antarsesama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan