Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara (Malut) mendorong generasi muda mengambil peran aktif dalam mengawal arah transisi energi agar tidak sekadar mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan, tetapi juga memastikan prosesnya berlangsung adil, demokratis, dan berpihak pada masyarakat.

Dorongan tersebut disampaikan WALHI Malut melalui kegiatan Sekolah Lapang Transisi Energi Berkeadilan (SLTEB) yang digelar di Desa Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan, Halmahera Selatan (Halsel), Jumat, 28 Agustus 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Pendidikan Kritis terhadap Transisi Energi Bagi Generasi Muda” itu melibatkan pelajar SMA Negeri 19 Halmahera Selatan sebagai bagian dari upaya memperluas literasi energi dan membangun kesadaran kritis di kalangan generasi muda.

SLTEB dirancang sebagai ruang belajar kolektif bagi anak muda dan komunitas untuk memahami persoalan energi dari berbagai sisi. Tak hanya membahas persoalan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi mengenai dampak sosial, ekologis, hingga politik ekonomi yang menyertai pembangunan sektor energi.

Manajer Kampanye WALHI Malut, Irsandi Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangun kapasitas kritis sekaligus kepemimpinan generasi muda agar mampu memahami, mengawal, dan mendorong terwujudnya transisi energi yang berkeadilan, demokratis, berbasis komunitas, dan berkelanjutan di Maluku Utara.

“Agenda ini juga bagian dari upaya kami untuk meningkatkan literasi generasi muda terkait energi dan perubahan iklim. Kemudian membangun pemahaman kritis mengenai hubungan antara energi fosil, industri ekstraktif, krisis ekologis, maupun ketimpangan sosial,” ujar Irsandi.

Menurutnya, persoalan transisi energi tidak dapat dilepaskan dari cara kebijakan energi dirancang dan dijalankan. Kebijakan yang cenderung bersifat top-down berisiko menjadikan masyarakat sekadar sebagai penerima dampak pembangunan, bukan sebagai subjek yang memiliki hak untuk menentukan arah pengelolaan energi di wilayahnya.

Di sisi lain, agenda transisi energi di berbagai daerah juga kerap berjalan beriringan dengan ekspansi industri ekstraktif, terutama pertambangan mineral yang diposisikan sebagai bahan baku penting bagi pengembangan teknologi energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Kondisi tersebut, kata Irsandi, menunjukkan bahwa transisi energi tidak boleh dipahami secara sederhana sebagai perpindahan dari energi fosil menuju energi terbarukan.

“Transisi energi juga perlu dipahami sebagai proses perubahan sistem energi yang demokratis, adil, berkelanjutan, berbasis kebutuhan masyarakat, menghormati hak asasi manusia, melindungi ekosistem, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk menentukan dan mengelola sistem energinya sendiri,” tegasnya.

Dalam konteks itu, WALHI Malut menilai generasi muda memiliki posisi strategis. Mereka bukan hanya kelompok yang akan mewarisi dampak krisis iklim dan kerusakan lingkungan, tetapi juga memiliki peluang besar untuk menjadi aktor perubahan.

“Mereka juga memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan melalui pengetahuan, pengorganisasian, inovasi, advokasi, dan pengembangan alternatif energi berbasis komunitas,” kata Irsandi.

Ia menegaskan, penguatan peran generasi muda tidak cukup dilakukan melalui transfer pengetahuan teknis semata. Dibutuhkan ruang pendidikan yang mampu membangun kesadaran kritis agar anak muda dapat melihat persoalan energi secara lebih utuh.
Kesadaran tersebut mencakup pemahaman mengenai hubungan antara energi, lingkungan hidup, ekonomi politik, hak-hak masyarakat, gender, perubahan iklim, hingga ketimpangan dalam penguasaan sumber daya alam.

Melalui SLTEB, WALHI Malut berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami isu energi dan perubahan iklim, tetapi juga berani mempertanyakan kebijakan, menyuarakan kepentingan masyarakat, serta terlibat dalam mendorong model energi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dari Gane Luar, pesan itu menjadi penting: transisi energi bukan hanya tentang energi apa yang digunakan, tetapi juga tentang siapa yang menentukan, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang menanggung dampaknya.

Andi Naser
Editor
Andi Naser
Reporter