Angka kecelakaan lalu lintas di Maluku Utara kembali menjadi sorotan serius. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, sedikitnya 12 nyawa melayang di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas. Data tersebut memantik keprihatinan mendalam jajaran Polda Maluku Utara dan menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera bertindak bersama.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Maluku Utara, Brigjen Pol Stephen M. Napiun, menyampaikan bahwa Polri saat ini melaksanakan dua operasi strategis secara beriringan, yakni Operasi Pekat I (penyakit masyarakat) yang berlangsung selama 10 hari ke depan, serta Operasi Keselamatan Kie Raha 2026 yang digelar selama 14 hari, terhitung mulai Senin, 2 Februari 2026.

“Operasi ini merupakan langkah cipta kondisi dalam menggiring situasi yang kondusif menjelang Operasi Ketupat. Kita ingin menyajikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat, sehingga saat Operasi Ketupat nanti beban kita tidak terlalu berat, karena potensi gangguan, khususnya kecelakaan lalu lintas, sudah kita urai sejak dini,” ujar Stephen usai memimpin apel operasi, Senin pagi.

Ia mengungkapkan, sepanjang Januari 2026 telah tercatat 16 kasus kecelakaan lalu lintas di wilayah Maluku Utara yang mengakibatkan 12 orang meninggal dunia. Angka tersebut, menurutnya, menjadi perhatian serius Polda Malut bersama jajaran Polres serta instansi terkait.

“Ini harus menjadi atensi kita bersama, termasuk pemerintah daerah dan instansi yang membidangi perlintasan. Kita perlu mengurai penyebab kecelakaan secara detail, apakah karena kelalaian manusia atau faktor sarana prasarana jalan seperti adanya titik blank spot dan black spot. Semua ini harus dikaji bersama agar pada Operasi Ketupat yang merupakan operasi kemanusiaan, kita benar-benar siap,” tegasnya.

Kepada seluruh Polres jajaran di wilayah hukum Polda Maluku Utara, Wakapolda menekankan agar melakukan langkah dan gerakan secara serentak. Penanganan lebih intensif diminta dilakukan di wilayah dengan tingkat kecelakaan lalu lintas yang tergolong tinggi, seperti Polres Kepulauan Sula dan Polres Halmahera Tengah, melalui upaya mitigasi yang lebih masif untuk menekan angka fatalitas.

Dalam pelaksanaan operasi, Brigjen Pol Stephen juga mengingatkan seluruh personel agar tetap menjunjung tinggi disiplin, mengedepankan tindakan pre-emtif dan preventif, serta bersikap humanis kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa tindakan represif hanya menjadi pilihan terakhir.

“Kita bersinergi dengan TNI, Jasa Raharja, Dinas Perhubungan, serta pemerintah daerah, karena ini adalah operasi kemanusiaan. Apalagi operasi ini bertepatan dengan bulan Ramadan. Saya tekankan kepada anggota bahwa tugas ini adalah sarana ibadah. Walaupun bertugas sambil berpuasa dan beban cukup berat, pelayanan kepada masyarakat harus tetap prima,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Wakapolda Malut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran berlalu lintas, mulai dari penggunaan helm dan sabuk pengaman, hingga mematuhi batas kecepatan di jalan raya.

“Kesadaran keselamatan ini kita harapkan lahir bukan karena ada polisi, tetapi karena masyarakat menyadari bahwa keselamatan adalah hak sekaligus kebutuhan mereka sendiri,” pungkasnya.

Redaksi
Editor
Redaksi
Reporter