Ratusan massa yang tergabung dalam Front Perjuangan Untuk Demokrasi (FPUD) turun ke jalan di Kota Ternate, Jumat (1/5/2026), dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia (May Day). Aksi ini menjadi panggung bagi berbagai tuntutan terkait persoalan buruh hingga isu lingkungan yang kian mengemuka di Maluku Utara.
Sejak siang, massa mulai berkumpul di depan kediaman Gubernur Maluku Utara. Dengan membawa spanduk dan poster tuntutan, mereka kemudian bergerak menuju Kantor Wali Kota Ternate sekitar pukul 16.00 WIT. Sepanjang perjalanan, orasi bergema, menyoroti beragam persoalan mulai dari meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), kriminalisasi gerakan buruh, hingga ancaman terhadap ruang hidup masyarakat.
Dalam aksinya, FPUD secara tegas menolak praktik reklamasi di wilayah Maluku Utara yang dinilai berpotensi merusak ekosistem pesisir. Mereka juga mendesak pemerintah segera menyelesaikan krisis air bersih yang hingga kini masih menjadi keluhan utama warga Kota Ternate.
Koordinator aksi, Yasir Ashar, menegaskan bahwa May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat konsolidasi perjuangan buruh dan petani. Dalam orasinya, ia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, angka PHK terus meningkat tanpa kejelasan penyelesaian hak-hak dasar pekerja.
“Banyak buruh kehilangan pekerjaan, namun hak seperti pesangon dan gaji tidak dibayarkan secara layak. Negara seharusnya hadir melindungi, bukan membiarkan,” tegas Yasir di hadapan massa aksi.
Ia juga menyoroti ekspansi industri pertambangan yang dinilai semakin masif, tetapi tidak diiringi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kondisi tersebut justru memicu konflik sosial di tingkat lokal. Salah satu contoh yang diangkat adalah kasus teror terhadap warga di Patani, Kabupaten Halmahera Tengah, yang hingga kini dinilai belum dituntaskan secara serius.
FPUD mendesak Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk mengusut tuntas berbagai kasus yang berkaitan dengan dampak industri ekstraktif. Sementara itu, Pemerintah Kota Ternate diminta segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi krisis air bersih serta menghentikan proyek reklamasi yang dianggap mengancam keberlanjutan lingkungan.
Aksi berlangsung hingga pukul 18.00 WIT dalam suasana relatif damai. Namun, menjelang malam, massa aksi akhirnya dibubarkan oleh aparat kepolisian. Meski demikian, semangat perlawanan yang disuarakan dalam peringatan May Day ini menegaskan bahwa perjuangan buruh dan masyarakat akan terus berlanjut.



Tinggalkan Balasan