Oleh: Muajmin Hudin*

Sorak-sorai pendukung Poram Mareku masih terdengar di lapangan Gurabati. Secara matematis, tim kebanggaan Mareku itu berhasil mengamankan satu tempat di putaran berikutnya Gurabati Open Tournament (GOT) XXVIII 2026. Tiket lolos sudah berada di tangan. Nama besar Poram masih tercatat dalam daftar tim yang melanjutkan perjalanan.

Namun di balik kelolosan itu, tersimpan kegelisahan yang semakin sulit diabaikan.

Poram memang masih hidup di kompetisi, tetapi ada sesuatu yang terasa hilang dari tim yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai simbol disiplin, kerja keras, dan semangat juang tanpa kompromi.

Kekalahan 0-2 dari Rajawali Simau dalam laga penentuan juara Grup G seakan menjadi cermin yang memantulkan kenyataan tersebut. Bukan sekadar hasil buruk di papan skor, melainkan sebuah pertandingan yang membuka pertanyaan lebih besar tentang kondisi Poram saat ini.

Tim yang dulu ditakuti karena karakter bermainnya kini terlihat berbeda.

Ada masa ketika Poram Mareku menjadi representasi sepak bola yang keras dan disiplin. Latihan dijalani dengan keseriusan penuh. Tidak ada pemain yang merasa aman hanya karena memiliki nama besar. Tidak ada ruang bagi sikap setengah hati.

Setiap sesi latihan adalah arena pembentukan mental bertarung.

Dalam kultur seperti itulah Poram membangun reputasinya.

Namun, cerita itu kini mulai terdengar seperti kenangan.

Di sekitar lapangan, mulai beredar keluhan mengenai menurunnya standar kedisiplinan tim. Kehadiran pemain dalam latihan disebut tidak lagi seketat masa-masa sebelumnya. Ada yang datang tidak konsisten, ada yang absen, bahkan ada yang terlihat belum berada dalam kondisi fisik terbaik saat mengikuti sesi latihan.

Situasi tersebut perlahan menciptakan jurang antara standar yang pernah dibangun Poram dengan kenyataan yang terlihat hari ini.

Masalah lain muncul pada aspek kesiapan skuad.

Sejumlah pemain diketahui masih mengikuti turnamen lain di luar Maluku Utara pada waktu yang bersamaan. Akibatnya, fokus tim terpecah. Kondisi fisik pemain tidak merata. Yang lebih penting, kekompakan yang seharusnya dibangun melalui proses bersama menjadi sulit tercipta secara utuh.

Dalam sepak bola kompetitif, kondisi seperti ini sering kali menjadi awal dari banyak persoalan.

Dampaknya terlihat jelas saat menghadapi Rajawali Simau.

Poram tampil tanpa intensitas yang selama ini menjadi identitas mereka. Tekanan tinggi yang biasanya memaksa lawan melakukan kesalahan hampir tidak terlihat. Agresivitas kolektif yang dahulu menjadi ciri khas permainan mereka juga menghilang.

Yang tampak justru sebuah tim yang bermain terpisah-pisah, kehilangan sinkronisasi, dan gagal menghadirkan energi yang sama di setiap lini.

Persoalan ini tidak bisa lagi dipandang semata sebagai masalah strategi atau taktik.

Akar persoalannya tampak lebih dalam.

Ini tentang disiplin.

Ini tentang komitmen.

Sebab sepak bola modern, bahkan di level turnamen daerah sekalipun, tidak lagi bisa bergantung pada reputasi masa lalu. Nama besar hanya akan bertahan jika didukung oleh proses yang kuat. Dibutuhkan latihan yang konsisten, kebugaran yang terjaga, fokus yang tidak terpecah, dan komitmen penuh dari seluruh pemain.

Ketika fondasi itu mulai retak, kualitas permainan pun ikut melemah.

Padahal selama bertahun-tahun Poram dikenal sebagai tim yang kuat justru karena keteguhannya menjaga hal-hal mendasar. Tidak ada pemain yang merasa lebih besar dari tim. Tidak ada kepentingan lain yang mengganggu fokus utama. Semua bergerak dalam satu tujuan yang sama: menjaga kehormatan Mareku di atas lapangan.

Kini standar itu mulai terlihat longgar.

Dan ketika standar menjadi longgar, karakter tim perlahan ikut memudar.

Publik Mareku pun mulai menyadari bahwa persoalan Poram tidak bisa lagi dijelaskan dengan alasan klasik seperti kurang beruntung atau sekadar mengalami hari yang buruk. Masalah yang muncul sudah menyentuh aspek yang lebih fundamental: bagaimana tim dikelola, bagaimana pemain menjalani proses, dan sejauh mana komitmen terhadap lambang Poram masih dijaga.

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah kekalahan dari Rajawali Simau.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kekalahan itu terlihat sebagai konsekuensi yang wajar dari proses yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Karena itu, kelolosan ke babak berikutnya tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap persoalan yang ada. Justru sebaliknya, hasil tersebut harus menjadi alarm yang berbunyi lebih keras.

Babak selanjutnya akan menghadirkan lawan yang lebih kuat, permainan yang lebih cepat, dan tekanan yang lebih tinggi. Tidak ada ruang bagi tim yang belum sepenuhnya siap. Tidak ada tempat bagi skuad yang masih berjuang menyelesaikan persoalan disiplin internal.

Poram masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

Namun perbaikan itu tidak akan lahir dari slogan atau diskusi semata. Perubahan harus dimulai dari hal-hal paling dasar: kedisiplinan latihan, komitmen pemain, dan kejelasan prioritas kompetisi. Tidak boleh ada lagi kehadiran setengah hati. Tidak boleh ada lagi fokus yang terpecah. Tidak boleh ada lagi standar yang diturunkan hanya karena merasa memiliki nama besar.

Sebab Poram Mareku bukan sekadar sebuah tim sepak bola.

Mereka adalah simbol perjalanan panjang sebuah kampung yang selama bertahun-tahun menjaga harga dirinya melalui sepak bola. Nama besar itu dibangun oleh generasi yang bermain dengan penuh pengorbanan, bukan oleh mereka yang mengandalkan reputasi masa lalu.

Sejarah Poram tidak pernah ditulis oleh tim yang longgar dalam disiplin.

Dan hari ini, tantangan terbesar mereka bukan hanya memenangkan pertandingan berikutnya.

Tantangan sesungguhnya adalah menemukan kembali karakter yang pernah membuat mereka disegani.

Karena tanpa disiplin, nama besar hanya akan menjadi kenangan.

Dan tanpa karakter, Poram Mareku akan kehilangan hal paling berharga yang pernah mereka miliki di lapangan Gurabati.

Redaksi
Editor