Ratusan warga dan pemuda Kelurahan Bobo, Kota Tidore Kepulauan, turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Lurah Bobo, Rabu (29/4/2026).

Aksi ini menjadi respons tegas terhadap beredarnya konten di media sosial TikTok melalui akun D’facto yang memuat narasi dinilai rasis sekaligus mendistorsi sejarah masyarakat setempat.

Dalam orasinya, massa menyoroti klaim “Bobo adalah Papua” yang dianggap tidak hanya keliru secara historis, tetapi juga merendahkan martabat warga. Bagi mereka, narasi tersebut bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan bentuk diskriminasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Koordinator aksi, Jusman Samma, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif, bukan reaksi emosional semata. Ia menyebut, masyarakat Bobo merasa identitas dan sejarah mereka sedang didekonstruksi melalui informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Ini bentuk rasisme terhadap warga Bobo. Kami menolak narasi yang memecah belah dan merusak sejarah yang telah diwariskan leluhur,” ujarnya di hadapan massa aksi.

Ia juga menekankan bahwa Kelurahan Bobo memiliki rekam jejak sejarah yang jelas dan telah berdiri secara resmi sejak 1967. Karena itu, menurutnya, tidak ada ruang bagi pihak mana pun untuk memelintir fakta sejarah melalui konten digital yang menyesatkan.

Dalam tuntutannya, massa mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah tegas, termasuk melakukan pemutusan akses atau penurunan (take down) terhadap konten-konten provokatif yang berpotensi memicu konflik sosial.

Selain itu, mereka mendorong penguatan literasi digital agar masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi, sekaligus mampu melawan penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi.

Tidak hanya kepada pemerintah, massa juga menyuarakan harapan agar Kesultanan Tidore turut memberikan klarifikasi terbuka guna meluruskan sejarah dan identitas masyarakat Bobo di tengah polemik yang berkembang.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan didesak untuk segera menyusun regulasi daerah yang secara khusus mengatur penanganan tindakan rasisme serta memberikan perlindungan terhadap martabat masyarakat adat dan komunitas lokal.

Aksi berlangsung tertib dan damai dengan pengawalan aparat keamanan. Warga menegaskan, perjuangan ini bukan semata soal klarifikasi narasi, tetapi bagian dari upaya menjaga kehormatan, warisan sejarah, serta persatuan masyarakat Tidore di tengah derasnya arus informasi digital.

Redaksi
Editor
Redaksi
Reporter