Oleh: Marwan Buka, Penggiat Karang Taruna Mosio.*

Pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan Kanal Kota Maba dengan anggaran sekitar Rp40,8 miliar menjadi perhatian publik. Sebagian masyarakat mendukung karena melihatnya sebagai kebutuhan penting bagi perkembangan ibu kota Kabupaten Halmahera Timur. Namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan besarnya anggaran yang dialokasikan untuk proyek tersebut. Perbedaan pandangan ini tentu wajar. Dalam setiap pembangunan, masyarakat berhak memberikan dukungan maupun kritik.

Namun, pembahasan mengenai proyek ini sebaiknya tidak hanya berhenti pada angka anggaran. Yang lebih penting adalah memahami alasan pembangunan dilakukan, masalah yang ingin diselesaikan, serta manfaat yang akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Sebab sebuah pembangunan tidak bisa dinilai hanya dari besar atau kecilnya biaya yang dikeluarkan.

Kota Maba saat ini terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, pelayanan publik, dan aktivitas ekonomi Halmahera Timur. Pertumbuhan jumlah penduduk, kawasan permukiman, serta aktivitas masyarakat membuat kebutuhan terhadap infrastruktur dasar semakin meningkat. Salah satu kebutuhan yang paling penting adalah sistem pengelolaan dan pengendalian air yang baik.

Selama ini, beberapa wilayah di Kota Maba kerap mengalami genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Kondisi geografis yang relatif datar serta tingginya curah hujan membuat persoalan ini berpotensi menjadi masalah yang lebih besar di masa mendatang apabila tidak ditangani sejak sekarang. Karena itu, pembangunan kanal bukan sekadar proyek fisik biasa, melainkan langkah antisipasi untuk melindungi kota dari risiko banjir dan genangan.

Fungsi kanal sangat penting bagi kawasan perkotaan. Selain memperlancar aliran air, kanal juga berperan mengurangi genangan, melindungi kawasan permukiman, menjaga fasilitas umum, serta mendukung tata kota yang lebih tertata. Infrastruktur seperti ini memang tidak selalu terlihat mencolok, tetapi manfaatnya sangat besar bagi kehidupan masyarakat.

Besarnya anggaran proyek juga harus dilihat dari cakupan pekerjaan yang dilakukan. Rehabilitasi kanal tidak hanya berupa penggalian saluran air, tetapi juga mencakup normalisasi saluran, pengerukan sedimentasi, penguatan tebing, pembangunan struktur pengaman, serta berbagai pekerjaan teknis lainnya. Dengan cakupan pekerjaan yang luas dan manfaat jangka panjang yang diharapkan, proyek ini perlu dipandang secara menyeluruh.

Selain berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian air, pembangunan kanal juga merupakan bagian dari upaya penataan Kota Maba sebagai ibu kota kabupaten. Kota Maba adalah wajah Halmahera Timur. Setiap warga dari berbagai kecamatan yang datang mengurus keperluan pemerintahan akan melihat kondisi kota ini. Begitu pula investor, tamu pemerintah, maupun pihak luar yang ingin mengenal Halmahera Timur.

Karena itu, membangun Kota Maba sesungguhnya bukan hanya membangun satu wilayah, tetapi juga membangun citra dan masa depan daerah. Ibu kota yang tertata dengan baik akan meningkatkan kenyamanan masyarakat, memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah, serta menambah daya tarik daerah bagi investasi dan pembangunan.

Pembangunan yang dilakukan hari ini juga merupakan bagian dari upaya melanjutkan cita-cita para tokoh yang telah meletakkan fondasi pembangunan Halmahera Timur, termasuk almarhum Ir. Muhdin Hi. Ma’bud. Semangat pembangunan yang berorientasi pada masa depan perlu terus dilanjutkan agar daerah ini mampu berkembang dan bersaing dengan daerah lain.

Dalam konteks itulah, langkah Pemerintahan Ubaid Yakub dan Anjas Taher menjadikan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah perlu dipahami secara objektif. Pemerintah tidak hanya bertugas menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga harus mempersiapkan solusi atas tantangan yang mungkin muncul beberapa tahun ke depan.

Tentu saja pembangunan harus tetap diawasi. Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan publik merupakan hal yang sangat penting agar setiap rupiah anggaran digunakan secara tepat. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik yang konstruktif akan lebih bermanfaat bagi kemajuan daerah dibandingkan sekadar perdebatan yang tidak menghasilkan solusi.

Pada akhirnya, pembangunan Kanal Kota Maba bukan hanya tentang saluran air atau nilai anggaran Rp40,8 miliar. Di balik proyek tersebut terdapat visi jangka panjang untuk menciptakan Kota Maba yang lebih aman, tertata, dan siap menghadapi perkembangan di masa depan. Sebab ketika Kota Maba dibangun dengan baik, yang sesungguhnya sedang dipersiapkan adalah masa depan Halmahera Timur. (*)